PIAGAM GUMI SASAK: Upaya untuk melestarikan Budaya Sasak


Piagam Gumi Sasak lahir karena adanya masalah-masalah kebudayaan yang terjadi pada saat ini. Para budayawan melihat adat istiadat kebudayaan sasak seakan-akan kesakralannya itu mulai luntur dan jauh melenceng dari aturan-aturan yang sudah di tetapkan. Sehingga dalam permasalahan ini, para budayawan bergerak untuk menyepakati dan mengeluarkan sebuah Manifesto kebudayaan tetapi dalam hal tersebut, tentu tidak bisa di lakukan sepihak saja maka di perlukan keterlibatan para tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pengemban  Gumi Paer serta Majelis Adat Sasak.  Seperti yang di ungkapkan oleh salah satu anggota di lembaga kebudayaan sasak Murahim M. Pd. “ melihat kondisi kebudayaan gumi Sasak yang sudah agak melenceng dari arah yang sebenarnya maka kami berinisiatif bagaimana memperbaikinya kondisi  sejarah Sasak yang sudah di obrak abrik oleh kepentingan penguasa, kebudayaan yang sudah melenceng dari sejarah yang sebenarnya, bahwa prakti-praktik budaya sekarang ini  jalurnya sudah tidak jelas artinya nilai-nilai kearifan lokal yang muncul  dari budaya-budaya tersebut hilang  karena tidak sesuai dengan jalannya dan tidak sesuai dengan koridor yang digunakan. Jadi kami yang sebagai anggota di lembaga kebudayaan  bangsa Sasak merasa  bertanggung jawab untuk kemudian bagaimana memperbaiki hal-hal tersebut.”  Ungkapnya (27/12/2017). 
Dalam hal itu disepakatilah untuk mengeluarkan manifesto kebudayaan, yang menyatakan bagaimana melindungi suatu budaya dengan benar. Dan selanjutnya manifesto kebudayaan diganti dengan istilah Piagam Gumi Sasak atas pertimbangan-pertimbangan forum atau majelis-majelis kebudayaan Sasak. Piagam Gumi Sasak ini pertama kali dibacakan pada 26 Desember 2017 oleh  Dr. Muhammad Fajri, M.A di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB). Berikut ini isi naskah dari Piagam Gumi Sasak:

PIAGAM GUMI SASAK
Bismillahirrahmanirrahim
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah kemanusiaan melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di gumi paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini. Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak diantara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah bangsa. Sadar akan hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam Gumi Sasak sebagai berikut:
Pertama :
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua :
Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga :
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya- karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat :
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru  dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima :
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.

Mataram, 14 Mulud tahun Jimawal/1437H
26 Desember 2015.

Narasumber : Murahim, M.Pd.


Komentar

Posting Komentar