Tradisi
Nyongkolan di Lombok hingga kini masih merupakan bagian penting dari prosesi
pernikahan adat Sasak. Nyongkolan merupakan salah satu budaya suku Sasak yang
diartikan sebagai salah satu rangkaian dari acara sesudah akad nikah selesai.
Agama
Islam memandang tradisi nyongkolan, pada hakikatnya dihajatkan untuk
menjalankan roh agama itu sendiri karena dalam nyongkolan terdapat syiar untuk
memperkenalkan kedua mempelai kepada kaum kerabat yang hadir. Nyongkolan
diartikan sebagai upacara mengunjungi rumah orang tua pengantin wanita
(silaturrahmi) oleh pengantin pria maupun pengantin wanita dengan diiringi oleh
keluarga, kerabat dan kenalan dengan suasana penuh kemeriahan, kedua mempelai
diibaratkan sebagai raja dan permaisuri yang diiringi oleh pengawal dan
dayang-dayang istana, ibarat Raja Sejelo dalam bahasa sasak, tujuanya adalah
untuk menampakkan dirinya secara resmi dihadapan orang tuanya dan
keluarga-keluarganya bahkan juga kepada seluruh masyarakat sambil meminta maaf
dan do’a restu yang disertai memberi penghormatan kepada kedua orang tua calon
pengantin wanita.. Dalam ajaran Islam nyongkolan hukumnya adalah sunnah dengan
berlandaskan hadist:
وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفُوفِ الْمَسَاجِدِ أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاجْعَلُوهُ ف
“Sebarluaskanlah
pernikahan, dan laksanakanlah pernikahan itu di masjid, dan tabuhkanlah atasnya Gendang atau Rebana padanya. (H.R.
Turmudzi dari Siti Aisyah).”.
Tradisi Nyongkolan bila dikaitkan dengan perspektif Islam dapat membentuk karakter positif antara lain: Pertama, munculnya karakter untuk ikhlas saling memaafkan atas kesalahan yang telah dilakukan, terutama kedua mempelai terhadap kedua orang tuanya. Kedua, mempererat tali persaudaraan dan silaturrahim antara keluarga kedua mempelai, sehingga dapat memupuk tali kekeluargaan yang semakin erat antara satu sama lain. Ketiga kebersamaan, menumbuhkan prasaan saling membantu dalam penyelesaian prosesi adat Nyongkolan. Keempat, kepedulian terhadap orang lain, Nyongkolan dilaksanakan dengan cara tertib, teratur, dan rapi agar tidak mengganggu orang lain. Terlebih Nyongkolan dilaksanakan dengan jalan kaki secara beriringan. Dengan menerapkan karakter peduli pada orang lain disaat prosesi nyogkolan maka tidak akan terjadi konflik, dikarenakan kesadaran dari masyarakat saat prosesi Nyongkolan diadakan.
Tradisi Nyongkolan bila dikaitkan dengan perspektif Islam dapat membentuk karakter positif antara lain: Pertama, munculnya karakter untuk ikhlas saling memaafkan atas kesalahan yang telah dilakukan, terutama kedua mempelai terhadap kedua orang tuanya. Kedua, mempererat tali persaudaraan dan silaturrahim antara keluarga kedua mempelai, sehingga dapat memupuk tali kekeluargaan yang semakin erat antara satu sama lain. Ketiga kebersamaan, menumbuhkan prasaan saling membantu dalam penyelesaian prosesi adat Nyongkolan. Keempat, kepedulian terhadap orang lain, Nyongkolan dilaksanakan dengan cara tertib, teratur, dan rapi agar tidak mengganggu orang lain. Terlebih Nyongkolan dilaksanakan dengan jalan kaki secara beriringan. Dengan menerapkan karakter peduli pada orang lain disaat prosesi nyogkolan maka tidak akan terjadi konflik, dikarenakan kesadaran dari masyarakat saat prosesi Nyongkolan diadakan.
Tradisi Nyongkolan dilakukan setelah
akad nikah dilaksanakan, dan waktunya tergantung dari kesiapan keluarga
pengantin pria. Terkadang satu minggu setelah akad nikah bahkan satu bulan,
karena tidak ada ketentuan waktu yang mengharuskannya untuk segera
dilaksanakan. Nyongkolan bukanlah suatu kewajiban dalam sebuah upacara
perkawinan pada masyarakat Sasak, bahkan tidak jarang ada masyarakat yang tidak
melaksanakan upacara tersebut. Tetapi sebagian besar kalangan masyarakat
mengharuskan dengan alasan adat atau peratuaran yang sudah ada sejak dulu, yang
disebut dengan Awik-Awik.
Dalam kesempatan ini juga kedua mempelai dibawa
menemui kedua orang tuanya sebagai simbol untuk memohon maaf atas perbuatannya
yang telah meninggalkan rumahnya untuk kawin. Tetapi perlu diingat dalam
pelaksanaan nyongkolan terebut sering terjadi keonaran yang merusak nilai moral
adat dan agama yang sering dilakukan oleh pemuda secara umumnya pada saat ini.
Yang padahal hakekat nyongkolan itu dihajatkan oleh tokoh adat, tokoh agama,
pemerintah dan mayarakat sasak yang cinta akan budayanya
Tradisi
nyongkolan sangatlah bagus dan banyak manfaatnya seperti hubungan silaturrahmi
terjalin, bertambahnya keluarga dan tidak adanya prasangka buruk jika suatu
saat mereka keluar malam atau bergoncengan pada malam hari. karena hal ini
berlandaskan hadist “A’linunnikah” maksudnya sebarluaskanlah pernikahan itu.
Dan berdasarkan inilah banyak dari kalangan tokoh agama membolehkan nyongkolan
tersebut karena memiliki arti yang cukup luas dan penuh makna dan bila dilakukan
secara benar-benar yang berdasarkan syariat dan adat, yang semata-mata untuk
menjalin tali persaudaraan terhadap perempuan.
Siiip mantap, kalau bisa juga sekdar masukan, cantumkan sedikit tentang sejarah dari nyokap nyongkolan ini sehingga akan lebih menarik dan pembaca akan dapat wawasan yang lebih luas lagi serta agar kita juga tau bagaimana sebenarnya adat dan istiadat kita, mungkin nih, kita begini karena kita tidak tau sejatinya Nyongkolan itu kyak gmn..
BalasHapusMohon ijin berkomentar sedikit��
BalasHapusSecara ideal dan sejatinya, tidak ada yang salah dengan tradisi nyongkolan, namun yang terjadi sekarang tradisi yang baik ini sudah banyak terjadi modifikasi dan sudah hampir keluar dan jauh dari tradisi murni bagaimana kebiasaaan dan ajaran serta awik2 yang seharusnya dijalankan, sehingga kalau dilihat secara nyata dan fakta tradisi nyongkolan yang saat ini ketika kita padukan dan sandingkan degan syariat islam itu sudah sangat jauh. dan untuk itu mari sama2 kita kembali ke tradisi sebagaiman nenek moyang kita dulu dalam melakukan nyongkolan, matur tampiasih...
Keren
BalasHapusBagus, benar2 menambah wawasan
BalasHapusBagus juja
BalasHapussangat membangun
BalasHapusTerimakasih pencerahannya, sekarang komentar negatif ttg nyongkolan pun akan semakin dipikirkan oleh masyarakat yg mungkin belum mengerti apa itu nyongkolan 💕
BalasHapusLuar biasa semakin menambah wawasan
BalasHapusTerima kasih atas infonya, menambah wawsan bahwa ternyata tradisi nyongkolan bisa dikaitkan dengan perspektif Islam. Sy tunggu info selanjutnya yaaa :-)
BalasHapusMantap Coment back ok..
BalasHapusIni seperti mahakarya
BalasHapusBagus. Kembangkan
BalasHapusMasyaallah
BalasHapusBERMANFAAT Ka......
BalasHapussemoga bermanfaat untuk pelestarian budaya Sasak..
BalasHapusSemoga dermanfaat
BalasHapusBagus sekali,, sangat menambah wawasan bagi kita semua
BalasHapuskerja bagus.. jangan lupa kunjungi guys tidakpakejudul.blogspot.com
BalasHapusManteeeppp
BalasHapuskembangkan terus
BalasHapusKeren memang tradisi sasak
BalasHapusKita berpandangan nyongkolan secara positif saja. Kembangkan mbak
BalasHapus#salam budaya
kereeennnn
BalasHapusMakasih jadikan sebagai refrensi diri untuk mengenal adat budaya.
BalasHapus